Mahasiswa dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Soegijapranata Catholic University (SCU) diperkenalkan dengan instrumen investasi reksa dana dalam Sosialisasi dan Edukasi “Road to Pekan Reksa Dana 2026” oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI), dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset, Kerja Sama, dan Internasionalisasi FEB SCU, Dr. Ranto P. Sihombing, SE, M.Si menilai pentingnya kegiatan ini untuk mengedukasi mahasiswa tentang instrumen investasi. “Menjadi salah satu upaya untuk mahasiswa memahami produk investasi agar tidak terjerat investasi bodong atau ilegal,” katanya di sela-sela kegiatan, Jumat (10/4) di Gedung Antonius, Kampus 1 SCU Bendan.
Sejalan dengan itu, Deputi Kepala Perwakilan BEI Jawa Tengah I, Akhmad Nurayanto turut menyoroti tren Generasi Z, termasuk mahasiswa, yang cenderung mengambil produk investasi dengan risiko tinggi. Padahal menurutnya, generasi muda harus benar-benar memahami dasar investasi sebelum memutuskan berinvestasi pada produk investasi tertentu. “Mereka (Generasi Z) terdorong untuk ingin ‘cepat berhasil,’ sehingga berani mengambil investasi dengan risiko tinggi tanpa memahami dengan baik produk yang dibeli,” jelasnya dalam kesempatan yang sama.
Lebih lanjut, sosialisasi dan edukasi berskala nasional ini dinilai penting untuk mengenalkan reksa dana, khususnya pasar uang dan syariah, sebagai produk investasi yang relevan dengan investor pemula. Hal ini karena produk reksa dana dikelola oleh manajer investasi profesional serta diawasi oleh OJK. “Investasi tidak selalu harus high risk. Reksa dana bisa menjadi langkah awal untuk memahami investasi secara bertahap sesuai profil risiko teman-teman mahasiswa,” lanjut Nurayanto.
Mengusung tema “Investasi Setenang Itu,” sosialisasi dan edukasi dilakukan di 5 kota, yakni Surabaya, Makassar, Bandung, Medan, dan Semarang. Forum ini bukan hanya memperkenalkan produk investasi reksa dana, melainkan juga memberikan membahas manfaat, karakteristik, serta risiko investasi sebagai bentuk perencanaan keuangan masa depan. Selain itu, mahasiswa juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengelola keuangan sejak dini.
Walau baru pertama kali diselenggarakan, Dr. Ranto menyebutkan bahwa pihaknya sangat terbuka dengan kemungkinan kerja sama lainnya. Beberapa di antaranya seperti penyelenggaraan kuliah umum, seminar, workshop, kuliah tamu, hingga penyusunan studi kasus terkait instrumen keuangan yang terintegrasi dengan pembelajaran.
Di sisi lain, Nurayanto juga menegaskan komitmen pihaknya untuk terus menghadirkan program sejenis di SCU. “Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk kerja sama berkat adanya Galeri Investasi BEI di FEB SCU. Dari sana, kami akan membuat lebih banyak kegiatan sebagai bentuk implementasi kerja sama yang sudah dijalankan,” tutupnya.









