Talk and Brew Gelaran Perpustakaan SCU Soroti Terbatasnya Penggunaan Bahasa Inggris di Ruang Publik Indonesia 

Talk and Brew Gelaran Perpustakaan SCU Soroti Terbatasnya Penggunaan Bahasa Inggris di Ruang Publik Indonesia 

Talk and Brew Gelaran Perpustakaan SCU Soroti Terbatasnya Penggunaan Bahasa Inggris di Ruang Publik Indonesia 

Sejumlah dosen dan tenaga kependidikan Soegijapranata Catholic University (SCU) antusias berdiskusi mengenai alasan penggunaan Bahasa Inggris di Indonesia tidak banyak ditemui di ruang publik. Sebaliknya, hanya terbatas pada pembelajaran di ruang kelas.

Mereka berdiskusi bersama Guru Besar Faculty of Language and Arts (FLA) SCU, Prof. Dr. Heny Hartono, S.S, M.Pd dalam Forum Talk & Brew “Mengapa Bahasa Inggris Berhenti di Ruang Kelas?” yang diselenggarakan Perpustakaan SCU pada Kamis, 26 Februari 2026 di Lib Cafe, Gedung Thomas Aquinas, Kampus 1 SCU Bendan.

Mengapa Bahasa Inggris Berhenti di Ruang Kelas?

Dalam forum tersebut, Prof. Heny turut mengajak para peserta merefleksikan posisi Bahasa Inggris di Indonesia yang hingga kini masih berstatus sebagai bahasa asing. Kondisi ini, menurutnya, membuat penggunaan Bahasa Inggris cenderung terbatas di ruang kelas dan belum menjadi bagian dari praktik komunikasi sehari-hari di ruang publik.

“Di Indonesia, Bahasa Inggris dipelajari sebagai mata pelajaran, bukan sebagai bahasa yang digunakan dalam interaksi sosial sehari-hari. Ini berbeda dengan negara Asia Tenggara lain, seperti Singapura, di mana Bahasa Inggris berfungsi sebagai second language (bahasa kedua) dan digunakan secara luas dalam kehidupan sosial,” jelasnya.

Prof. Heny juga memaparkan perbedaan mendasar antara konsep language acquisition (pemerolehan bahasa) dengan language learning (pembelajaran bahasa). Ia menjelaskan bahwa pemerolehan bahasa terjadi secara alami dan berfokus pada makna, sementara pembelajaran bahasa di kelas lebih menekankan aturan, struktur, dan aspek benar-salah. Fokus berlebihan pada tata bahasa dan ketepatan, menurutnya, kerap membuat pembelajar takut salah dan enggan menggunakan Bahasa Inggris di luar kelas.

“Ketika orang terlalu sibuk menerjemahkan di kepala dan takut dinilai salah, keinginan untuk berkomunikasi justru terhambat. Padahal, dalam komunikasi, yang utama adalah makna dan pesan yang ingin disampaikan,” ujarnya.

Melalui praktik percakapan sederhana yang melibatkan peserta, Prof. Heny menekankan pentingnya communicative competence, yakni kemampuan menggunakan bahasa secara kontekstual, termasuk keberanian, kelancaran, dan strategi komunikasi. Ia menilai bahwa kemampuan linguistik seperti tata bahasa dan skor tes saja tidak cukup tanpa kemampuan berkomunikasi secara nyata.

Menghidupkan Suasana Interaktif

Kepala UPT Perpustakaan SCU, Melani Adirati, S.Hum, M.A, menjelaskan bahwa forum merupakan upaya pihaknya dalam menghidupkan suasana interaktif perpustakan dengan mendekatkan riset ilmiah kepada sivitas akademika “Kami ingin perpustakaan tidak hanya menjadi tempat meminjam buku atau mencari referensi, tetapi juga ruang diskusi yang hidup, tempat sivitas akademika bisa bertemu langsung dengan dosen dan peneliti,” ungkapnya.

Rutin diselenggarakan tiap bulan, pihaknya pun berharap Talk and Brew dapat menjadi wadah berkelanjutan bagi para dosen scu untuk membagikan riset dan pengalaman mereka secara luas. “Riset tidak hanya berhenti di buku atau jurnal, tetapi bisa langsung dibagikan, didiskusikan, dan dimanfaatkan,” tambah Melani.

Picture of Humas

Humas