Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Soegijapranata Catholic University (SCU) bersama Sajogyo Institute menyelenggarakan Seminar Nasional “Spirit Mgr. Soegijapranata dan Prof. Sajogyo dalam Membaca Realitas Pedesaan melalui Penelitian dan Pengabdian” secara hybrid di Mini Teater, Kampus 1 SCU Bendan, Jumat (24/4). Forum ini menghadirkan Prof. Tony D. Pariela (Universitas Pattimura), Drs. Andreas Pandiangan (Fakultas Hukum dan Komunikasi (FHK) SCU), Dr. Rustina Untari, SE, MSi (Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) SCU), Dr. Alberta Rika Pratiwi, MSi (Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) SCU), dan Dr. Ivanovich Agusta, SP, MSi (Institut Pertanian Bogor (IPB) University).
Mereka menggali dan merefleksikan nilai serta semangat Mgr. Albertus Soegijapranata, Uskup Pribumi Pertama dan Prof. Sajogyo, Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia dalam konteks pembangunan desa di Indonesia. Keduanya merupakan sosok yang peduli dengan kesejahteraan masyarakat marjinal. Mgr. Soegijapranata dikenal karena keberpihakannya pada kaum kecil dan tertindas melalui ajaran sosial Gereja, sementara Prof. Sajogyo dikenal sebagai pelopor kajian kemiskinan di Indonesia berkat studinya yang membahas tentang kemiskinan perdesaan dan pembangunan agraria.
Kepala LPPM SCU, Dr. Y. Trihoni Nalesti Dewi, SH, M.Hum menilai masih adanya kesenjangan antara data statistik pembangunan desa secara makro dengan kehidupan masyarakat di sana. “Misalnya, data kemiskinan oleh BPS hanya dari pendapatan per kapita penduduk atau jumlah pengeluaran harian yang merupakan statistik permukaan. Indikator yang dipakai hanya aspek ekonomi tanpa mengabaikan kerentanan struktural,” tegasnya.
Penggunaan indikator yang hanya melihat satu aspek ini, yaitu ekonomi, mengakibatkan pengambilan kebijakan dalam mendukung pengembangan desa menjadi terbatas. “Daripada mencari akar masalahnya secara lebih komprehensif, kemiskinan hanya diatasi dengan memberikan bantuan sosial berupa uang tunai untuk menaikkan daya beli mereka,” lanjut Dr. Trihoni.
Di samping itu, pelaksanaan kebijakan seringkali hanya menyasar lapisan masyarakat tertentu, sehingga dampaknya belum benar-benar dirasakan secara menyeluruh. “Contohnya sektor pertanian, bantuan seperti alat dan bibit hanya dirasakan oleh tuan tanah atau petani kaya, sementara petani golongan rentan di pedesaan masih terpinggirkan,” jelas Dr. Trihoni.
Rektor SCU, Ir. Robertus Setiawan Aji Nugroho, ST, M.Comp.IT. Ph.D menilai pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendorong perubahan sosial di kalangan masyarakat pedesaan. “Pembangunan yang dilakukan sifatnya masih ‘top-down,’ sehingga masyarakat hanya ditempatkan sebagai ‘penerima program’ dan solusi yang ditawarkan menjadi tidak relevan. Masyarakat perlu diajak untuk ‘mengubah keadaan’ dan ikut memberikan solusi dari permasalahan yang mereka hadapi,” tuturnya..
Forum ini menawarkan Metode Kaji-Tindak Partisipatif atau Participatory Action Research (PAR) yang dipelopori Sajogyo Institute. “Pendekatan ini ingin memposisikan kembali masyarakat sebagai subyek perubahan sosial, bukan sekedar obyek penelitian,” kata Sekretaris Utama Sajogyo Institute, Eko Cahyono.









