
Para dosen muda Soegijapranata Catholic University (SCU) didorong untuk memperluas wawasannya tentang penelitian interdisipliner. Mereka mengikuti Seminar “Penelitian Interdisipliner untuk Keberlanjutan Lingkungan Pesisir” di Mini Teater Albertus, Kampus 1 SCU Bendan, Kamis (27/8).
Seminar Penelitian
Seminar menghadirkan Prof. Daniel Murdiyarso, Ph.D. (Center for International Forestry Research (CIFOR); International Centre for Research on Agroforestry (ICRAF); IPB University) dan Dr. Hotmauli Sidabalok, S.H., C.N., M.H. (Fakultas Hukum dan Komunikasi (FHK); Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan (FITL) SCU). Mereka membahas mulai dari konsep, metode, hingga praksis penelitian interdisiplin dan transdisipliner dalam menjawab isu keberlanjutan lingkungan pesisir.
Topik ini menurut Prof. Daniel penting mengingat tidak dapat dilihat dari satu aspek saja. Sebaliknya, persoalan kawasan pesisir menurutnya perlu dilihat dari berbagai sudut pandang. Beberapa di antaranya melalui dimensi ekosistem, biofisik, sosial, hingga ekonomi.
Keberlanjutannya pun sangat berkaitan dengan risiko, bahaya, keterpaparan, kerentanan, dan kapasitas adaptasi. “Ancaman seperti kenaikan muka laut dan penurunan muka tanah dapat saling berkaitan dan meningkatkan risiko bagi masyarakat pesisir,” katanya.
Senada dengan itu, Dr. Hotmauli menilai kompleksnya persoalan yang dihadapi kawasan pesisir. Integrasi berbagai latar belakang keilmuan dinilainya penting mengingat adanya keterbatasan teori, konsep, maupun metode dalam memahami masalah secara utuh.
“Dalam pendekatan interdisipliner, beberapa disiplin ilmu tidak sekadar mempelajari persoalan yang sama secara terpisah, tetapi berkolaborasi dengan mengintegrasikan metode dan pendekatan. Sementara itu, pendekatan transdisipliner memperluas kolaborasi dengan melibatkan warga serta pengalaman dan pengetahuan mereka dalam proses produksi pengetahuan,” jelas Dr. Hotmauli.
SCI-TIDES
Seminar ini merupakan pembuka rangkaian program peningkatan kapasitas dosen yang didukung United Board for Christian Higher Education in Asia, “Strengthening Capacity Building for Interdisciplinary Tri Dharma Center for Environmental Coastal.” Selain seminar, rangkaian kegiatan termasuk workshop, penyusunan manuskrip, serta pengembangan modul service learning. Program ini direncanakan akan berjalan hingga Desember 2027.
Nantinya, akan ada 15 dosen yang dibagi dalam 3 kelompok untuk berpartisipasi. Mereka akan melakukan riset di 3 wilayah pesisir di Pantai Utara Prov. Jateng: Tambakrejo; Bedono, dan; Tugu. Sejalan dengan topik, fokus riset akan menyasar pada persoalan keberlanjutan lingkungan di ketiga wilayah pesisir.
Ketua Program, Dr. Robertus Probo Yulianto Nugrahedi, S.T.P., M.Sc. menjelaskan bahwa program ini bertujuan mengembangkan kemampuan penelitian interdisipliner. Luarannya pun nantinya akan diintegrasikan dalam implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Integrasi hasil dan pengalaman penelitian dengan proses pembelajaran serta pengabdian kepada masyarakat dilakukan dengan modul. Setelahnya, akan dilakukan uji coba dengan melibatkan mahasiswa. Agar mereka memperoleh pengalaman pembelajaran bersama masyarakat pesisir,” kata Dr. Probo.









