Pages

Rayakan Dies Natalis ke-43, SCU Tekankan Pendidikan Personal dan Inklusif sebagai Arah Transformasi Kampus

Rayakan Dies Natalis ke-43, SCU Tekankan Pendidikan Personal dan Inklusif sebagai Arah Transformasi KampusSoegijapranata Catholic University (SCU) merayakan Dies Natalis ke-43 dengan menegaskan kembali komitmennya pada pendidikan tinggi yang personal dan inklusif. Penegasan ini dikuatkan dengan Orasi Ilmiah “Bergerak Bersama Kampus PINTAR” oleh Guru Besar Faculty of Language and Arts (FLA) SCU Prof. Heny Hartono dalam puncak rangkaian Dies Natalis pada Selasa (5/8).

Bertempat di Auditorium Agnes Widanti, Kampus 1 SCU Bendan, Prof Heny merumuskan gagasan Kampus PINTAR (Personalized, Inclusive, Transformative, Authentic, Reflective) sebagai landasan menuju pendidikan yang mampu mengubah dan menggerakkan. Menurutnya, kampus bukan hanya tempat mahasiswa diasah secara intelektual melalui pembelajaran akademik, namun juga membentuk pribadi mereka melalui pendidikan karakter.

“Kampus yang ‘bergerak’ adalah kampus yang adaptif, proaktif, dan reflektif. Ia (kampus) menempatkan mahasiswa sebagai pusat, merangkul keberagaman, dan menanamkan proses pembelajaran yang kontekstual sekaligus bermakna,” terang Prof. Heny.

Arah Transformasi Pendidikan
Sejalan dengan itu, Rektor SCU Dr. Ferdinandus Hindiarto menegaskan bahwa nilai tersebut sejalan dengan tema Dies Natalis, “Spiritualitas Perjumpaan: Pendidikan Personal dan Inklusif yang Mengubah dan Menggerakkan.” “Kami menanamkan bahwa ‘spiritualitas perjumpaan’ sebagai roh pendidikan di kampus. Kami fokus mengejar pendidikan sejati, di mana mahasiswa ditemani dan didampingi secara personal dan memperlakukan mereka secara inklusif,” tegasnya.

Lebih lanjut, semangat ini menurutnya juga selaras dengan nilai ‘cura personalis’ yang dihidupi kampus, di mana perhatian dan pendampingan yang diberikan tersebut diimplementasikan melalui berbagai program pembelajaran. Salah satunya dalam metode pembelajaran khas SCU, Soegijapranata Learning Model (SLM) yang kini memasuki tahun keempat implementasi.

Implementasi nilai tersebut di lingkungan kampus juga sempat dibagikan Prof. Heny di tengah pembacaan orasi ilmiah. Menurutnya, relasi yang bermakna antar sivitas akademika dapat mendorong transformasi pendidikan di sebuah perguruan tinggi.

“Kami mencoba mengenali mahasiswa satu per satu, hingga memberi mereka catatan reflektif pribadi. Percaya bahwa momen kecil seperti itu bisa membekas. Karena perjumpaan yang otentik, itulah yang mengubah arah hidup mahasiswa,” tuturnya.

Rangkaian Dies Natalis
Orasi ilmiah tersebut sekaligus menutup rangkaian Dies Natalis yang jatuh pada hari yang sama. Sebelumnya, rangkaian diawali dengan mengajak segenap sivitas akademika mengenang kembali warisan nilai patron universitas, Mgr. Alb. Soegijapranata. Mereka mengikuti Misa Nyekarya di TMP Giri Tunggal Semarang pada Selasa (22/7), bertepatan dengan peringatan meninggalnya Uskup Pribumi Pertama itu.

Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan acara Gelar Griya di Kampus 2 SCU BSB pada Sabtu (26/7) sebagai pameran sekaligus diseminasi implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi kepada masyarakat sekitar. “Semangatnya adalah berbagi. Semua program studi memberikan sesuatu kepada masyarakat, sebagai bentuk perjumpaan,” terang Ketua Dies Natalis Dr. Novita Ika Putri.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp