
Sebanyak 47 lulusan pertama Program Pendidikan Profesi Psikolog, Fakultas Psikologi (FPsi), Soegijapranata Catholic University (SCU) melakukan Pengambilan Sumpah Profesi di Teater Thomas Aquinas, Kampus 1 SCU Bendan pada Kamis, 29 Januari 2026. Kegiatan ini turut dihadiri Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Dr. Andik Matulessy, S.Psi, M.Si, Psikolog. SCU merupakan salah satu dari 19 perguruan tinggi Indonesia penyelenggara Program Profesi Psikolog.
Rektor SCU, Ir. Robertus Setiawan Aji Nugroho, S.T, M.Comp.IT, Ph.D menegaskan pentingnya profesi psikolog yang justru semakin relevan meskipun dihadapkan dengan perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). “Ketika banyak bidang pekerjaan akan digantikan AI, psikolog adalah salah satu yang tidak bisa digantikan. Psikolog dengan ilmu psikologinya mengutamakan pengalaman, empati, dan relasi antar manusia, yang tidak bisa digantikan teknologi,” jelasnya.
Robertus yang merupakan dosen Teknik Informatika (TI) menilai persoalan psikologis tidak bisa diselesaikan hanya dengan narasi yang dimunculkan dari teknologi digital. “Orang tidak akan selesai beban psikologisnya hanya dengan bercerita dengan Chat GPT. Mereka butuh ruang empati serta simpati, dan disitulah psikolog hadir,” tandasnya.
Mewujudkan Kesehatan Mental
Sependapat, Dekan FPsi SCU, Dr. Dra. Kristiana Haryanti, M.Si, Psikolog, menyebut bahwa saat ini Pemerintah RI melalui Kemenkes secara tidak langsung menyampaikan urgensi kebutuhan terhadap tenaga kesehatan psikis, yaitu psikolog. Ia menyoroti data yang disampaikan Menkes RI, Budi Gunadi Sadikin, bahwa 1 dari 8-10 atau sekitar 28 juta warga Indonesia berpotensi mengalami masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, hingga skizofrenia.
“Kami punya keinginan untuk mewujudkan kesehatan mental di Indonesia, karena melihat urgensinya saat ini di masyarakat kita. Harapannya, para lulusan bisa berperan mewujudkan hal tersebut dengan ikut terjun dan berkiprah di masyarakat,” tuturnya.
Cerita Lulusan
Sejalan dengan itu, salah satu lulusan pertama Program Pendidikan Profesi Psikolog SCU, Faradiba Anugrah Kaay, mengungkap bahwa daerah asalnya, yaitu Kota Wamena, Kab. Jayawijaya, Prov. Papua Pegunungan, masih sangat membutuhkan kehadiran psikolog. “Kondisi di kampung halaman yang juga merupakan salah satu daerah konflik membuat saya tergerak untuk melanjutkan pendidikan profesi psikolog,” ungkapnya.
Walau Provinsi Papua Pegunungan hanya memiliki 8 kabupaten, Faradiba mengaku bahwa sama sekali tidak ada psikolog yang bertugas di sana. Padahal menurutnya, hadirnya psikolog sangat dibutuhkan di kawasan Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK), seperti Wamena yang juga memiliki jejak konflik. “Satu-satunya yang ada hanya psikiater dan itu sangat kurang. Apalagi mereka yang terkena gangguan kesehatan mental ‘kan sebenarnya membutuhkan pendampingan, mereka ingin didengarkan. Kalau psikiater hanya bisa memberi obat sebagai solusi,” tandasnya.
Bukan hanya DTPK, wilayah perkotaan seperti Semarang juga membutuhkan kehadiran psikolog, khususnya dalam menangani kenakalan remaja. Hal ini disampaikan lulusan Program Pendidikan Profesi Psikolog SCU lain, Ellena Ayu Susanto, yang saat praktik lapangan telah memberikan pendampingan pada mereka. “Sebenarnya mereka adalah remaja-remaja yang rentan, jadi penting untuk diarahkan dan didampingi,” tuturnya. Ellena sendiri menjadi lulusan termuda sekaligus terbaik dan merupakan alumnus FPsi SCU.