
R. Setiawan Aji Nugroho – Rektor SCU
Kita pernah menyebut generasi muda sebagai digital native, generasi yang tumbuh bersama internet dan teknologi digital. Kini, kita memasuki babak baru: generasi AI native, yang sejak awal terbiasa berinteraksi dengan kecerdasan buatan. Perubahan ini tidak terbatas soal teknologi, melainkan tentang bagaimana manusia belajar, berpikir, bekerja, dan memaknai kehidupannya.
Dalam tradisi filsafat Yunani, pendidikan dikenal dengan konsep paideia. Ia, bukan sekadar pengajaran atau transfer pengetahuan, melainkan proses pembudayaan manusia, pembentukan karakter, dan penumbuhan kebijaksanaan. Perspektif ini menjadi semakin relevan ketika pengetahuan dapat diakses dalam sekejap dan gagasan dapat dihasilkan dengan bantuan mesin.
Tantangan pendidikan bukan lagi sekadar memastikan peserta didik mengetahui lebih banyak, tetapi membantu mereka menjadi manusia yang lebih utuh. Ketika AI mampu memberikan jawaban, kita harus mengajarkan bagaimana mengajukan pertanyaan yang tepat, menguji kebenaran, memahami konteks, dan mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan. Kecerdasan tanpa kebijaksanaan justru dapat menjadi persoalan baru.
Perubahan ini tentu menuntut para pendidik untuk berubah. Pendidik yang gagap menghadapi AI mungkin merasa dirinya terdisrupsi, bahkan terancam kehilangan relevansi. Namun, kita tidak boleh berhenti pada rasa cemas. Kita harus siap belajar, bereksperimen, dan menemukan kembali makna kehadiran seorang pendidik. Kita tidak harus lebih cepat daripada mesin dalam mengolah informasi, tetapi kita harus mampu mendampingi generasi muda dalam memahami makna dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.
AI dapat menjadi mitra belajar yang luar biasa, tetapi pendidikan tetap membutuhkan relasi antarmanusia, keteladanan, empati, dan pendampingan. Mesin dapat membantu kita membaca kata dan mengolah data, tetapi manusia tetap harus belajar membaca dunia, memahami sesama, dan bertanggung jawab atas masa depan bersama.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa cerdas AI yang kita miliki, melainkan manusia seperti apa yang kita tumbuhkan bersamanya. Apakah kita sedang membentuk generasi yang sekadar mahir menggunakan teknologi, atau manusia yang mampu berpikir kritis, merawat empati, mengambil keputusan secara bijaksana, dan bertanggung jawab atas konsekuensi tindakannya? Apakah kemajuan teknologi membuat kita semakin mampu memahami sesama, atau justru semakin jauh dari pengalaman dan pergulatan manusia yang nyata?
Dalam hal ini, pendidikan sebagai paideia, sebagai pembudayaan manusia, menemukan kembali relevansinya. Tugas pendidikan bukan melawan mesin yang semakin cerdas, melainkan memastikan bahwa manusia yang tumbuh bersamanya juga semakin matang. Sebab, masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan teknologi yang kita ciptakan, tetapi juga oleh kebijaksanaan, nilai, dan kemanusiaan yang kita tanamkan dalam diri generasi penerus.
Semangat Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa masa depan bangsa selalu bertumpu pada kesediaan untuk bertumbuh bersama, melampaui perbedaan, dan memperjuangkan cita-cita yang lebih besar daripada diri sendiri. Hari ini, tantangannya mungkin berbeda dari 1928, tetapi panggilan untuk membangun masa depan bersama tetap sama.









