Didukung Kemendiktisaintek, SCU Terjun Dampingi Penyintas Bencana Banjir dan Longsor di Sumut

Didukung Kemendiktisaintek, SCU Terjun Dampingi Penyintas Bencana Banjir dan Longsor di Sumut

Soegijapranata Catholic University (SCU) menerjunkan Tim Pengabdian kepada Masyarakat untuk mendampingi para penyintas bencana banjir dan tanah longsor di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Sebanyak 14 mahasiswa, alumni, dan dosen Fakultas Kedokteran (FK) serta Center for Trauma Recovery (CTR) Fakultas Psikologi (FPsi) turut memberikan pendampingan medis dan psikososial.

Keberangkatan mereka dilepas Rektor SCU, Ir. Robertus Setiawan Aji Nugroho, S.T, M.Comp.IT, Ph.D di Selasar Thomas Aquinas, Kampus 1 SCU Bendan, Kota Semarang pada Kamis, 18 Desember 2025. Program ini turut didukung Kemendiktisaintek melalui skema hibah dan pendanaan dari Dirjen Pengembangan dan Riset.

Rombongan tiba di lokasi pada Jumat, 19 Desember 2025, dan telah menangani hampir 400 penyintas bencana hingga 26 Desember 2025. Adapun daerah yang dikunjungi di Kab. Tapanuli Tengah antara lain Desa Parjalihotan di Kec. Pinangsori, Desa Hutanabolon dan Sigiring-Giring di Kec. Tukka, serta Kec. Sutahuis.

Sebanyak 8 dokter yang di antaranya merupakan dosen dan lulusan FK SCU memberikan konsultasi, edukasi, dan pemeriksaan kesehatan, triase, tindakan medis minor, pemberian obat, serta penentuan rujukan jika pasien membutuhkan penanganan medis lanjutan.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat SCU, dr. Ratna Shintia Defi, M.Biomed (AAM), M.M (RS) mengungkapkan bahwa penyakit kulit, seperti jamur, dermatitis iritan dan alergika, dan skabies menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan. Di sisi lain, sejumlah penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), gangguan pencernaan, nyeri otot dan sendi, hipertensi, diabetes, kolesterol, serta penyakit jantung juga banyak ditemukan. “Semestinya bisa ditangani dengan minum obat rutin. Namun, akhirnya terhenti karena lumpuhnya puskesmas dan akses jalan yang terputus,” terang dr. Ratna.

Sementara, 6 mahasiswa CTR FPsi SCU turut melakukan screening psikososial dalam bentuk asesmen kondisi psikologis untuk mengidentifikasi penyintas yang membutuhkan perhatian khusus, dilanjutkan dengan pendampingan psikologi dasar untuk stabilisasi emosi, serta psikoedukasi. Berbagai bentuk dukungan secara psikis diberikan, mulai dari relaksasi, terapi sentuh, serta aktivitas kreatif.

Lebih lanjut, hadirnya SCU menurut keterangan dr. Ratna berupaya menghadirkan rasa aman melalui pendampingan bagi para penyintas. “Pelayanan yang dilakukan secara menyeluruh, meliputi penanganan keluhan, pemantauan, dan dukungan, menjadi wujud kepedulian kami terhadap mereka yang terdampak bencana,” tandasnya.

Pihaknya pun akan tetap melakukan pemantauan kondisi para penyintas bencana secara bertahap. “Kami akan berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan setempat serta menyusun laporan berdasarkan perencanaan intervensi lanjutan,” tambah dr. Ratna. Ia pun berharap pendampingan yang diberikan dapat berkontribusi pada proses pemulihan kesehatan para penyintas bencana secara berkelanjutan.

Senada dengan itu, Wakil Koordinator Mahasiswa CTR FPsi SCU, Clara Ambar Pramudita juga berharap kebutuhan dasar penyintas dapat segera terpenuhi, mengingat hal tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap fungsi sosial dan psikis. “Mereka semakin menyadari bahwa banyak pihak yang peduli, karena bencana itu itu kan salah satu kejadian traumatis. Harapannya dapat turut mempersiapkan para penyintas melanjutkan hidupnya kembali,” harapnya.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp