Dapat Apresiasi dari Jerman, Desain Rumah Apung dan Rumah Amfibi SCU Dinilai Berdampak untuk Wilayah Pesisir

Dapat Apresiasi dari Jerman, Desain Rumah Apung dan Rumah Amfibi SCU Dinilai Berdampak untuk Wilayah Pesisir

Desain rumah apung dan rumah amfibi garapan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Soegijapranata Catholic University (SCU) mendapatkan apresiasi dari organisasi kesejahteraan sosial Katolik terbesar di Jerman, Caritas Germany (Deutscher Caritasverband) dan NGO terbesar di Jerman yang berfokus pada pemberantasan kelaparan global, Welthungerhilfe (WHH). Apresiasi tersebut disampaikan secara langsung oleh Program Coordinator Caritas Germany, Bonar Saragih dan Internal Auditor WHH, Sonja Vogelsberg ketika melakukan audit dan evaluasi proyek tersebut.

Berlangsung di Gedung Henricus Constant, Kampus 1 SCU Bendan pada Jumat (17/4), keduanya datang bersama perwakilan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Dinperkim) Kab. Demak dan Yayasan SHEEP Indonesia. Mereka disambut Ketua Tim PkM, Ir. FX. Bambang Suskiyatno, M.T bersama dua anggota timnya, Dr. Ir. Antonius Ardianto, M.T, IAI dan FX.Yudhistira Ricky Kurnia, M.Ars.

Dalam kesempatan tersebut, Bonar mengungkapkan kekagumannya terhadap pendekatan dan dampak PkM yang dijalankan. Tidak hanya menjawab persoalan hunian, Bonar juga menilai proyek ini  berangkat dari pemahaman mendalam terhadap perubahan lingkungan. “Yang dikerjakan oleh SCU sangat menarik dan impresif. Awalnya hanya dua unit,  kemudian berkembang menjadi belasan. Ini menunjukkan dampak yang diberikan besar,” katanya.

Sebagai informasi, kedua rumah tersebut dirancang khusus untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang terdampak banjir rob yang menggenangi kawasan permukiman di wilayah pesisir Demak. Proyek ini merupakan kerja sama antara SCU, Dinperkim Kab. Demak, Yayasan SHEEP Indonesia, dan WHH. Prototipe pertamanya masing-masing dibangun di Desa Timbulsloko dan Desa Surodadi, Kec. Sayung, Kab. Demak dan telah diserahterimakan kepada Pemkab Demak pada Rabu, 16 April 2025 lalu.

Ir. Bambang menjelaskan bahwa kedua rumah dirancang untuk tetap berada di atas permukaan air meskipun menghadapi kondisi ekstrem akibat banjir rob.

Namun demikian, ia mengaku banyak mendapatkan masukan dari masyarakat yang terlibat dalam proses pembangunan. Tim pun kemudian melakukan penyesuaian desain untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan  kondisi di lapangan. “Awalnya hanya satu model, kemudian berkembang jadi dua model itu,” tandas Ir. Bambang.

Lebih lanjut, pihaknya memang sengaja melibatkan masyarakat dalam setiap proses pembangunan. Timnya pun memberikan edukasi melalui Focus Group Discussion (FGD) hingga pelatihan untuk para tukang sampai mereka bisa membangun rumah tersebut secara mandiri.

“Kami membuka untuk para tukang memberikan ide. Walau terkadang memang keluar dari desain awal, tetapi selama masih sesuai dengan kaidah sains, kami terima dan sesuaikan,” kata Ir. Bambang.

Pendekatan tersebut terbukti efektif dalam menumbuhkan inisiatif masyarakat. Dari awalnya dua unit, rumah apung dan amfibi tersebut kini jumlahnya telah bertambah menjadi belasan. Bersamaan dengan itu, jumlah kelompok tukang yang terlibat juga turut bertambah. “Mereka tidak lagi menunggu bantuan, tapi sudah punya inisiatif untuk membangun sendiri,” lanjut Ir. Bambung.

Sejalan dengan itu, Sonja menilai gagasan ini berpotensi untuk terus dikembangkan. “Peran SCU dalam desain dan pengembangan prototipe-nya sangat besar. Akan sangat menarik jika melihat kerja sama ini terus berjalan dan membuka peluang pengembangannya ke depan,” katanya.

Picture of Humas

Humas