CTR FPsi SCU Terjunkan Mahasiswa dan Alumni untuk Dukungan Psikososial Korban Longsor Banjarnegara

CTR FPsi SCU Terjunkan Mahasiswa dan Alumni untuk Dukungan Psikososial Korban Longsor Banjarnegara

Sebanyak 10 mahasiswa dan seorang alumni Fakultas Psikologi (FPsi) Soegijapranata Catholic University (SCU) anggota Center for Trauma Recovery (CTR) FPsi SCU diterjunkan untuk mendampingi para penyintas bencana tanah longsor yang melanda Desa Pandanarum, Kec. Pandanarum, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah. Peristiwa longsor ini menyebabkan puluhan warga meninggal dan ratusan lainnya mengungsi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada pertengahan November 2025 lalu.

Wakil Koordinator Mahasiswa CTR FPsi SCU, Clara Ambar Pramudita, mengatakan bahwa keikutsertaan pihaknya dilatar belakangi oleh kepedulian atas minimnya sorotan publik terhadap bencana tersebut, khususnya pada para korban. “Awalnya kami melihat melalui media sosial bahwa banyak warga yang terdampak. Namun, belum banyak media massa yang menyoroti bencana longsor di Banjarnegara ini. Melihat hal tersebut, kami melakukan tindak lanjut persiapan untuk memberikan dukungan psikososial kepada para penyintas,” ujarnya.

Dalam pendampingan tersebut, tim CTR bekerja sama dengan Caritas Gereja Katolik Purwokerto dan tim tanggap psikososial lokal. Tugas mereka dimulai dengan melakukan asesmen di tiga posko pengungsian di Desa Beji Serang menggunakan instrumen Self-Reporting Questionnaire (SRQ) selama tiga hari. Selanjutnya, tim memberikan stabilisasi psikososial selama dua hari kepada para penyintas yang terdampak langsung bencana. “Asesmen kami serahkan kepada pihak yang lebih profesional untuk ditindaklanjuti. Fokus kami adalah pemberian dukungan psikososial dengan harapan mengembalikan fungsi sosial para penyintas,” terang Clara.

Lebih lanjut, ia menjelaskan suasana awal di lokasi bencana cukup berat, di mana banyak penyintas masih melamun karena kehilangan rumah, ternak, dan mata pencaharian. Namun menurutnya, seiring waktu, kondisi emosi para penyintas lambat laun menunjukkan perkembangan positif. “Para penyintas kian hari sudah lebih banyak mengobrol dan sudah dapat tertawa dibanding berdiam diri melamun,” katanya.

Tim CTR juga melakukan kegiatan pendampingan kreatif seperti Psychological First Aid, relaksasi, terapi sentuh, progressive muscle relaxation, hingga menggambar dan mewarnai bersama anak-anak. Clara menegaskan bahwa dukungan psikososial sangat penting dilakukan sejak dini untuk membantu mengurangi risiko gangguan psikologis jangka panjang yang mungkin dialami korban bencana.

Mengenai tindak lanjut, Clara menyatakan hasil asesmen yang diperoleh akan dilanjutkan oleh psikolog profesional yang bertugas di lokasi. “Dalam penanganan psikologis penyintas bencana seperti ini memanglah butuh waktu yang lumayan panjang. Di awal sangat penting untuk memberikan stabilitas agar mengurangi risiko gangguan psikologi yang lebih parah,” jelasnya.

Pihaknya pun berharap dukungan dari kampus akan semakin kuat di masa mendatang. “Kami sangat berharap kedepannya kami akan mendapat support penuh dari fakultas maupun universitas. Karena niat baik yang kami bawa ini juga membawa nama baik keduanya,” ungkap Clara.

Selain fokus psikososial, warga Banjarnegara sendiri hingga kini masih menjalani proses pemulihan dan pengungsian setelah bencana tanah longsor menimbun permukiman warga dan menyebabkan sejumlah warga meninggal serta puluhan lainnya hilang dalam pencarian SAR gabungan.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp