
Fakultas Psikologi (FPsi) Soegijapranata Catholic University (SCU) melalui Jurnal PSIKODIMENSIA bersama Asosiasi Psikologi Kristiani dari Himpunan Psikologi Indonesia (APK HIMPSI) menyelenggarakan Psikodimensia Public Forum 2026 secara hybrid di Teater Thomas Aquinas, Kampus 1 SCU Bendan, Sabtu (17/10). Mengusung tema “Bridging Differences: Psychological Perspective on Well-Being in Multicultural Society,” forum ini membahas kesejahteraan psikologis di tengah keberagaman masyarakat.
Topik Pembahasan
Topik tersebut dibahas Prof. Johana Endang Prawitasari, Ph.D. (Guru Besar UPITRA); Prof. Dian Ratna Sawitri, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog (Guru Besar UNDIP); Dr. Ferdinandus Hindiarto, S.Psi., M.Si. (Dosen FPsi SCU); Dr. Sri Aryanti Kristianingsih, M.Si., M.H., Psikolog (Dosen FPsi UKSW). Mereka membahasnya mulai dari perspektif psikologi klinis; pendidikan dan perkembangan; psikologi industri dan organisasi; psikologi sosial dan forensik, termasuk keterkaitan hukum.
Diikuti sekitar 500 dosen dan mahasiswa Program Studi Psikologi dari berbagai perguruan tinggi, forum ini mencoba melihat kesejahteraan psikologis dari berbagai sudut pandang psikologis. “Karena perbedaan latar belakang suku, agama, budaya, dan pendidikan, dapat memunculkan kecurigaan hingga konflik tertentu apabila tidak disikapi dengan baik,” kata Ketua Psikodimensia Public Forum, Bartolomeus Yofana Adiwena, S.Psi., M.Si.
Harapan
Senada dengan itu, Dekan FPsi SCU, Dr. Kristiana Haryanti, M.Si., Psikolog, menekankan pentingnya membangun pemahaman ini. “Indonesia sangat multikultur, sehingga kita memang perlu saling bisa bertenggang dan berbagi rasa,” tuturnya. Lebih lanjut, ia pun berharap forum ini dapat membuka pengalaman untuk membahagi kesejahteraan psikologis dalam masyarakat yang beragam secara lebih mendalam.
Pertama kali diselenggarakan, Bartolomeus menambahkan bahwa forum ini juga menjadi wadah pihaknya dalam mendorong budaya akademik. Caranya melalui pengenalan sekaligus pendekatan Jurnal Ilmiah PSIKODIMENSIA yang dikelola oleh fakultas. “Harapannya bisa terus berlanjut sebagai wadah pertukaran perspektif untuk memperkuat budaya akademik dan mendorong kesejahteraan psikologis dalam masyarakat multikultural melalui diskusi yang ringan dan relevan dengan persoalan sehari-hari,” harapnya.









