Dosen FPsi SCU Bahas Pendekatan Budaya dalam Pendampingan Psikologis, Soroti Pentingnya Isu Seksualitas

Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Soegijapranata Catholic University (SCU), Dr. A. Rachmad Djati Winarno, M.S. membahas pentingnya pemahaman terhadap latar belakang budaya dan pengalaman seseorang dalam proses pendampingan psikologis. Hal ini disampaikan dalam Seminar “Konseling Multikultur: Apakah Seksualitas Termasuk di Dalamnya?” yang diselenggarakan FPsi SCU di Teater Thomas Aquinas, Kampus 1 SCU Bendan, Jumat (9/10).

Dihadiri segenap dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa FPsi SCU, Djati membagikan pengalamannya memberikan pendampingan yang menurutnya tidak bisa dilepaskan dari latar belakang budaya. Menurutnya, pendekatan ini penting agar pemberi konseling psikologis atau konselor dapat memahami permasalahan kliennya. “Karena setiap orang mempunyai latar belakang, nilai, serta cara memandang permasalahan dengan cara yang berbeda. Kita sebagai konselor perlu membangun kepekaan tersebut untuk memahami mereka,” katanya.

Pendekatan ini menurut Djati juga akan membuat dirinya berikut para konselor semakin terbuka dalam menerima perspektif baru. Sudut pandang ini akan membantu mereka dalam mendalami permasalahan secara utuh. “Kita jadi bisa memberikan ruang yang luas bagi mereka untuk menceritakan seluruh pengalamannya secara bertahap, sehingga kita tidak terburu-buru menarik kesimpulan,” lanjutnya.

Fokus dan Perhatian

Lebih lanjut, salah satu yang tidak bisa dipisahkan yakni isu seksualitas, termasuk LGBTQ+ hingga lavender marriage. Djati menilai bahwa isu ini perlu dilihat sebagai salah satu pengalaman seseorang yang perlu dipahami dalam proses konseling psikologi.

Djati sendiri mempunyai perhatian pada isu ini dan banyak ia tuangkan dalam berbagai kajian yang dilakukannya. Ia bersama Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset, dan Kerja Sama FPsi SCU, Dr. Lita Widyo Hastuti, menjadi dosen yang pertama kali mengembangkan Mata Kuliah Pendidikan Seksualitas di program studi pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Tujuannya untuk mempersiapkan mahasiswa agar lebih siap dalam membicarakan isu seksualitas saat memberikan pendampingan.

Dalam proses pembelajaran, ia bersama dosen FPsi SCU lainnya tidak tabu untuk menggunakan alat peraga seksualitas. Salah satunya kondom yang digunakan untuk mengedukasi pencegahan HIV/AIDS. “Seksualitas adalah hal nyata yang kita temui dan hidupi setiap hari. Jadi penting untuk kita bahas, agar teman-teman mahasiswa juga terbiasa membicarakan hal tersebut secara tepat dan netral, termasuk penyebutan organ reproduksi, tanpa menunjukkan ekspresi yang menghakimi” jelas Djati.

Perhatian Djati dalam isu ini juga terlihat dari keterlibatannya mendampingi mahasiswa sebagai konselor SCU Student Care. Layanan kampus ini menghadirkan konsultasi, pendampingan, serta edukasi psikologis bagi mahasiswa.

Picture of Humas

Humas