Konferensi Internasional SCU bersama 7 Perguruan Tinggi Indonesia dan Eropa Perkuat Peran Kampus dalam Keberlanjutan Lingkungan 

Konferensi Internasional SCU bersama 7 Perguruan Tinggi Indonesia dan Eropa Perkuat Peran Kampus dalam Keberlanjutan Lingkungan 

Soegijapranata Catholic University (SCU) berkesempatan menjadi tuan rumah EcoGREEN International Conference yang diselenggarakan pada 21-22 Januari 2026 di Gedung Fransiskus Assisi, Kampus 2 SCU BSB.  Konferensi internasional yang mengusung tema “Beyond Ecological Literacy: From Knowledge to Actionable Practices for Sustainability” ini merupakan salah satu rangkaian puncak kerja sama internasional selama 3 tahun antara SCU dengan 7 perguruan tinggi Indonesia dan Eropa dalam proyek Erasmus+ EcoGREEN. Adapun perguruan tinggi Indonesia yaitu Universitas Surabaya, Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS), Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Universitas Trisakti. Sementara, perguruan tinggi Eropa yakni Eropa Hasselt University (Belgia), dan Wageningen University & Research (Belanda).

Sebanyak 98 pemakalah dari berbagai negara berkumpul memaparkan riset tentang pendidikan untuk keberlanjutan, pengetahuan dan kearifan ekologis tradisional, keuangan dan pelaporan keberlanjutan, desain untuk keberlanjutan, UMKM dan keberlanjutan, energi berkelanjutan, teknologi dan rekayasa untuk keberlanjutan, sistem pangan berkelanjutan, hingga kebijakan dan tata kelola lingkungan. Konferensi ini juga menghadirkan Prof. Y. Budi Widianarko (SCU), Dr. Ripin Kalra (University of Westminster, Inggris), Assoc. Prof. Jen-Wen Chen (Cheng Shiu University, Taiwan), Dr. Ansje Lohr (Open Universiteit, Belanda), Assoc. Prof. Tom Kuppens, PhD (Hasselt University, Belgia), dan Aryono Bambang Ardhy (Direktur FrieslandCampina Kievit, Indonesia).

Wakil Koordinator Proyek EcoGREEN SCU, Benny Danang Setianto, SH, LLM, PhD menjelaskan proyek ini bertujuan menguatkan kapasitas pendidikan tinggi dalam bidang keberlanjutan lingkungan. Adapun bentuknya melalui integrasi kurikulum dan modul pembelajaran serta pendalaman praktik ramah lingkungan di sejumlah perguruan tinggi, di antaranya termasuk penerapan green office serta pengelolaan energi, air, dan limbah. Berbagai forum internasional pun dilakukan, mulai dari studi banding, webinar/seminar, hingga Focus Group Discussion (FGD).

“Awalnya 6 perguruan tinggi Indonesia melakukan studi banding ke perguruan tinggi Belgia dan Belanda untuk mempelajari praktik ramah lingkungan di sana. Kami juga fokus menguatkan kurikulum pembelajaran dengan mengkaji dan menciptakan sejumlah mata kuliah yang memuat tentang keberlanjutan lingkungan,” jelas Benny.

Upaya ini juga dikemas dalam dua kompetisi yang diselenggarakan pada akhir 2024, yaitu EcoGREEN Hackathon di Belgia dan Jakarta, serta iSustain di Bandung. Keduanya mengundang mahasiswa dari seluruh dunia untuk menciptakan inovasi guna menjawab tantangan keberlanjutan lingkungan.

Benny menambahkan proyek ini juga mengarah pada pemberdayaan para pelaku UMKM agar mereka mengimplementasikan praktik ramah lingkungan. Selama tiga tahun ke belakang, pihaknya aktif memberikan pendampingan untuk para pelaku UMKM dalam mengelola limbah, menghemat energi, serta menghitung jejak ekologis (ecological footprint). Harapannya, UMKM bukan hanya berorientasi pada keuntungan (profit), melainkan juga menciptakan praktik kewirausahaan hijau (green entrepreneurship). “Kami melihat UMKM sebagai sektor yang paling strategis dalam menularkan gagasan peduli lingkungan, karena akses yang mudah dan dampaknya pun bisa langsung dirasakan,” terangnya.

Sebagai informasi, proyek ini mendapatkan pendanaan dari Uni Eropa melalui program Erasmus+ dan resmi berjalan pada 1 Maret 2023 dan berakhir pada Januari 2026. Erasmus+ sendiri bertujuan mendukung pemajuan dan pengembangan pendidikan, pelatihan, dan olahraga. Selepas ini, konferensi sejenis akan diselenggarakan di UNWAHAS dalam waktu dekat.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp