Karena lingkungan fisik umumnya adalah tempat yang stabil, maka lama-kelamaan perilaku akan menjadi habit dan selanjutnya menjadi "Nasib" kita. Bukankah pada awalnya kita membentuk lingkungan tempat tinggal kita, namun lambat laun lingkungan akan membentuk kita? Apakah Fengshui memiliki pijakan rasional? Pastinya, pertanyaan ini yang selalu muncul saat mengupas Fengshui. Fengshui yang disanjung sebagai tradisi turun temurun yang berakar pada sebuah ketidaklogisan. Akan tetapi tidak jarang rumah berdiri dengan perhitungan Fengshui yang cukup masuk akal.

Fengshui adalah sebuah frame baru yang dikembangkan dengan matematika supercanggih untuk melihat sifat positif dan negatif dari distribusi energi bumi dan pengaruhnya terhadap manusia. Sejalan dengan temuan dalam ilmu berbasis lingkungan, fengshui dapat dijelaskan sebagai kacamata baru yang memandang bahwa lingkungan yang seimbang energinya akan memberi pengaruh terhadap kehidupan manusia. ““Pada intinya, hanya menciptakan keseimbangan antara manusia dan alam sekitar,” ungkap Prof. Ir. Totok Roesmanto, M.Eng dalam Seminar ‘Kelogisan Fengshui dalam Arsitektur’, Selasa (12/6) lalu. Seminar yang diprakarsai oleh Jurusan Arsitektur UNIKA Soegijapranata ini juga menghadirkan Andie Wicaksono dan Dr.-Ing. L.M.F. Purwanto (UNIKA).
Jika ilmu berbasis lingkungan dapat memprediksi jenis perilaku apa yang bakal muncul dari sebuah stimulus lingkungan, maka pendekatan yang sama dilakukan oleh fengshui, bagi Andie Wicaksono, adalah dengan melihat pada tata letak, bentuk, warna dan waktu. Yang pada intinya, bertolak dari upaya menyelaraskan manusia dan alamnya. “Fengshui sendiri, menurut saya, merupakan upaya untuk menyatukan antara seseorang dan aktivitasnya sebagai isi, bangunan sebagai tempat orang itu berada, dan lingkungan di sekitar bangunan tersebut,” ungkapnya
Bahkan, Fengshui, bagi Dr.-Ing. L.M.F. Purwanto, merupakan penjelmaan dari ilmu radiostesi. “Radiostesi mengupas bahwa fengshui itu sebuah ilmu yang memang betul,” ungkapnya.
Ilmu yang sering dikaitkan dengan penataan ruang ini, bagi Prof. Ir. Totok Roesmanto, M.Eng, ternyata juga terlihat pada tradisi-tradisi lokal. Misalnya, saja konsep penataan rumah tradisional Yogyakarta, yang dilengkapi senthong-kiwa, senthong-tengah, senthong-tengen, dan pendhapa. Hanya saja tradisi lokal seringkali tidak didokumentasi secara tertulis. “Cross ventilasi dalam tradisi Jawa hampir sama dengan pengaturan aliran chi pada Fengshui,” tandasnya.
Sementara, catatan-catatan yang ilmiah mengenai tradisi fengshui, lanjutnya, masih tersimpan dengan rapi. “Fengshui, menurut saya, didasarkan pada catatan-catatan yang empiris,” ujar Totok.
Tetapi tentu saja, karena ini terkait masalah budaya, maka ada beberapa pertentangan atau perbedaan antar tiap tradisi, termasuk antara tradisi Fengshui dan tradisi lokal Indonesia, bahkan antar penganut Fengshui pun sering berbeda pendapat. Dalam pengaturan ruang tidur, misalnya.
“Keberadaan ruang tidur sangat penting menurut fengshui. Tetapi, aturan tradisional tidak memberikan aturan yang sangat rinci tentang ruang tidur,” tambahnya.
Untuk tetap eksis, Fengshui, ungkap Purwanto, tentu saja juga menggunakan bahasa-bahasa pemasaran. Dan konteks mistis atau kepercayaan irasional yang dijadikan tumbal bagi mereka yang tidak menggunakan Fengshui untuk mendesain rumahnya. Atau dapat dibilang bahasa pemasaran menggunakan teknik normatif. “Ini hanya sekedar bahasa marketing saja,” ungkapnya.
Seringkali, lanjutnya, simbol-simbol yang sering dipakai sebagai penguat. Misalnya saja ketika seseorang yang sedang berbicara dalam sebuah seminar, tentu saja akan didukung pula dengan simbol-simbol yang terpajang di background seminarnya. “Benda-benda ini hanya menguatkan saja,” ungkapnya.