Di balik perkembangan kota Palangkaraya, ternyata sejarah mencatat bahwa ibukota Propinsi Kalimantan Tengah ini sempat direnacakan menjadi Ibukota Negara. Kota ini pernah digagas oleh Bung Karno sebagai calon ibu kota negara Republik Indonesia. Begitu disampaikan Wijanarka, ST., MT mengawali acara Bedah Buku ‘Soekarno dan Desain Rencana Ibukota di Palangkaraya’, Kamis (3/8) lalu di Lemlit UNIKA.

Dalam buku terbitan Penerbit Ombak Yogyakarta ini, alumnus Arsitektur UNIKA ini menjelaskan, apabila ditinjau dari posisi geografisnya, posisi Palangkaraya cukup unik karena kota tersebut letaknya kira-kira berada tepat di tengah-tengah Indonesia. Dan apabila ditarik sumbu imajinernya, beberapa bangunan penting dari kota seluas sekitar 2.678,51 kilometer persegi ini segaris atau mengarah ke Jakarta. Dalam artian lain, gunjang ganjing terkait dengan penempatan ibukota negara di Palangkaraya mendekati titik terang. Pemancangan tiang pendirian Kota Palangkaraya pada tahun 1957 merupakan awal ide untuk menggagas Palangkaraya sebagai ibu kota negara. “Kalau dilihat dari posisinya, Palangkaraya berada cenderung di tengah wilayah RI. Dan tiang pancang ini adalah awalnya. Biasanya kalau peresmian, kita memakai batu, tetapi ini memakai tiang pancang. Jadi, sebetulnya Bung Karno menginginkan Jakarta sebagai pusat investasi dan Palangkaraya sebagai pusat politiknya. Hampir mirip dengan kota Washington DC,” kata Wijanarka, penulis buku ini.
Selain itu, keterikatannya dengan jalur patahan dan gunung berapi semakin menyakinkan Ketua Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Palangkaraya ini bahwa kota ini adalah calon ibukota negara yang tersingkir oleh desakan beberapa duta besar yang tetap berharap Jakarta menjadi ibukota RI. “Tahun 1959, Bung Karno mengeluarkan dekrit 5 Juli yang di salah satu pasalnya menyebut untuk kembali pada UUD’45. Dan, beliau (Soekarno-red) kelihatannya bingung untuk menentukan ibukota negara, Jakarta atau Palangkaraya. Jadi, sekitar bulan September 1959, Bung Karno berkunjung lagi ke Palangkaraya. Beliau sempat kecewa karena kurangnya penyediaan bahan bangunan. Yang kedua karena desakan para duta besar. Dan yang ketiga karena aspek sejarah. Ada lagi cerita bahwa Palangkaraya merupakan tanah tertua dan tidak ada patahannya,“ tambahnya.
Begitu juga dengan tata kotanya, ia yakin bahwa dalam pembangunan kota, Bung Karno ‘mengadopsi’ tiga master plan, yakni dari Piazza del Popolo di Italia, mal Washington DC, dan master plan kota Berlin. “Di majalah Kartini sekitar tahun 1985, saat kunjungannya ke luar negeri. Bung Karno suka sekali membeli buku-buku arsitektur. Bung Karno juga mengagumi Piazza del Popolo di Italia, mal Washington DC, dan master plan kota Berlin. Dan master plan struktur Kota Palangkaraya mempunyai kemiripan dengan tiga model ini," katanya.
Sementara di sisi lain Ir Koestomo, AC., MSi, dalam bahasannya, berasumsi bahwa kota Palangkaraya sengaja didesain oleh Bung Karno dengan desain-desain yang penuh simbol. Seperti misalnya, Bundaran besar pusat Palangkaraya yang sebenarnya merupakan simpang delapan yang menggambarkan jumlah kepulauan RI “Bung Karno memang dikenal sebagai orang yang romantic-simbolism. Misalnya saja simpang delapan yang menyimbolkan jumlah kepulauan di wilayah RI,” ujar mantan pengajar Jurusan Arsitektur UNIKA ini.
Kekagumannya dengan tata kota Palangkaraya semakin terasa saat ia membaca buku karya alumni UNIKA ini, Wijanarka. Pasalnya, dapat dikatakan, buku ini merupakan buku keempat yang merepresentasikan kota-kota di Indonesia. Apalagi, jika penulisnya membahas dari suatu sejarah planologi. Namun sangat disayangkan, ukuran buku ini dirasakannya terlalu kecil, sehingga gambar atau fotonya agak sulit dimengerti. ”Buku ini merupakan buku keempat yang saya temui yang mempresentasikan dari suatu sejarah planologi. Dan ini langka. Jalan pemikiran Mas Wij (Wijinarka-red) ini adalah mengkontekskan untuk membuat penafsiran dalam pembuatan desain kota. Buku ini juga sangat simpel dan kecil. Ketika saya mau melihat peta, agak kesulitan. Banyak sekali foto-foto yang kabur dan kecil,” tambahnya.