| Bendan Duwur, (24/3) The Java Institute Unika Soegijapranata menyelenggarakan Diskusi Dokumentasi dan Penyusunan Buku Napak Tilas Gereja Katolik di Jawa, sebagai bagian dari penggalian materi sejarah dan dokumentasi untuk menjawab pertanyaan bagi kaum awam Katolik di Jawa pada khususnya. Selain itu masyarakat memerlukan publikasi yang digali secara ilmiah dan sahih oleh institusi dan pemerhati yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan menggandeng Pontifical Council of Culture of Vatican, The Java Institute berharap banyak dalam diskusi tersebut menghasilkan materi yang akan dibukukan berjudul “Napak Tilas Gereja Katolik di Jawa dalam Pengaruh Budaya”. Tentu saja dokumentasi yang melengkapi sejarah, data, foto, prasasti dan semua artefak budaya dalam perkembangan sejarah Gereja Katolik di Jawa beserta pengaruh budayanya.
Mgr. Johannes Pudjasumarta, Pr dalam paparannya mengawali dengan kepenuhan kemanusiaannya kita ini melalui yang sejati, yakni memelihara yang baik dan benilai pada kodratnya. Perjalanan panjang dari budaya dan sejarah dari Majapahit sampai Kasultanan Demak menjadikan nusantara ini terbuka bagi masuknya budaya yang bersumber dari Kolonial Belanda, mereka membawa nilai-nilai baru Kristiani melalui misionaris Portugis, Spanyol dan Belanda yang menyebarkan benih-benih firman ke tanah air Nusantara. Mgr. Pudjo menegaskan bahwa pada zaman Sultan Hemengkubuwono VII (1877-1921) Sultan terbuka pada nilai-nilai baik, benar dan indah karya misi Katolik memperoleh ijin resmi pada tahun 1914 untuk berkembang di wilayah Kesultanan Ngayogjakarta. Pada waktu itu perkembangan umat Katolik berkembang dalam reksa pastoral Vikariat Apostolik Batavia ditandai dengan lahirnya “Hari Katolik” yang dirayakan secara meriah pada tahun 1930 dengan upacara pemberkatan Candi yang dibangun di Ganjuran oleh Pastur Schmutzer, dipersembahkan kepada Hati Kudus Yesus Pangeraning Para Bangsa.
Perkembangan masa keprihatinan berangsur pada pemekaran Vikariat Apostolik Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata,SJ pada 25 Juni 1940 pada waktu itu Indonesia jatuh dalam cengkeraman Jepang, setelah tiga setengah abad di bawah kekuasaan Belanda. Sampai saat ini di Indonesia kehadiran Gereja Katolik menegaskan sebagai Gereja Katolik Indonesia yang dinyatakan dengan bulla “Quod Christus Adorandus” 3 Januari 1961 yang ditandatangani oleh Prefeknya, Gregorius P, Card. Agagianian pada tahun ketiga masa kepausan Bapa Suci Johannnes XXIII sebagai bagian dari kebinnekatunggalikan.
Sementara itu Romo G. Budi Subanar, SJ menyampaikan dinamika yang tidak berkesudahan antara Gereja dan Budaya. Tema yang terbangun Gereja dalam budaya diawali dengan keterlibatan rasa dan iman yang dinyatakan oleh Mgr. Soegijapranata, SJ “Seratus persen Katolik dan Seratus persen Indonesia”. Tonggak penyataan nasionalis dalam Gereja Katolik melahirkan budaya baru yang pada waktu itu dipandang oleh masyarakat bahwa kepercayaan Katolik adalah bagian dari budaya penjajah. Keterlibatan dalam suasana liturgis Jawa dalam misa dan doa yang diterjemahkan dalam Bahasa Jawa pun juga menuai perdebatan, disaat itu pula Romo Van Liht memulai usahanya untuk membuka sekolah di Muntilan. Misionaris Belanda yang berkarya di Jawa memberikan kesempatan kepada pelukis Basuki Abdulah dan G. Sidartha untuk sekolah dan menimba ilmu seni ke Eropa; Dan di bidang musik RC. Hardjosubroto mengekpresikan kegelisahannya sebagai seorang Jawa yang harus menyanyikan lagu Latin dengan musik Gregorian. Sejak tahun 1925 ia melakukan terjemahan dan menyanyikan lagu Latin tersebut denganBahasa Jawa dan diiringi Gamelan.
Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi keterleburan budaya yang terbangun dalam kekayaan kearifan lokal yang berkembang dan dapat diterima oleh masyarakat Katolik yang “nyes” dalam nuansa Imani Jawa. Tentu saja proses tersebut tidak mudah untuk dapat diterima oleh masyarakat Katolik pada waktu itu, terjemahan, adaptasi dan inkulturasi menjadi sarana pertemuan antara agama dan budaya yang terbangun karena di sisi lain dilengkapi dengan kehadiran bangunan Gereja yang berarsitektur Jawa yang dikembangkan dan didesain oleh Romo Mangunwijaya.
Sederet peristiwa yang mewarnai keindahan perjalanan asal muasal sejarah Gereja Katolik di Tanah Jawa yang sangat vitas dan sentral dalam sejarah masa lalu. Pulau Jawa menjadi persemaian yang subur kebudayaan seperti kesusastraan, arsitektur, musik dan tarian serta karya seni yang berasal dari berbagai kerajaan yang berdiri di Jawa.
Ketua The Java Institute Unika Soegijapranata Dr. Retno Susilorini mengatakan bahwa Unika Soegijapranata memiliki kepedulian mendalam untuk mengkaji tentang Pulau Jawa, tentu saja dalam kajian tersebut tidak lepas dari perjalanan sejarah Pulau Jawa masa lalu dan masa yang akan datang berdasarkan berbagai bidang antara lain budaya, warisan, kemanusiaan, Gereja, lingkungan hidup, teknologi, bencana, pendidikan dan lain-lain. (juang saksono) |