| Bendan Duwur, (14/3) Menjawab tantangan masa depan yang ramah lingkungan dan humanis Program Studi Arsitektur Unika Soegijapranata menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Kontribusi Arsitektur Tradisional Nusantara Terhadap Konsep Green Architecture” . Acara yang digelar di Ruang Theater lantai 3 Gedung Thomas Aquinas dihadiri oleh mahasiswa arsitektur Unika , Undip, Unnes, Brawijaya Malang dan para dosen serta pemerhati lingkungan.
Nara sumber pada seminar kali ini menghadirkan Yori Antar Awal(Arsitek), Prof. DR. Ir. Josep Prijotomo, M.Arch. (Guru Besar Arsitektur ITS); Mahasiswa FAD Ignatius Nugroho Adi, M. Resha Khambali dan Nobertus Yunianto A.N yang terlibat pada pembangunan rumah adat di Sumba selama tiga bulan.
Seminar diawali dengan pamaparan dari ketiga mahasiswa yang terlibat secara mendalam pada proses perencanan dan pembangunan “Rumah Besar” bersama Arsitek Yori Antar . Ada pengalaman yang dibagikan kepada peserta seminar mulai dari tarian Yappa iya, kubur batu dan pesta yang menjadi bagian dari komunikasi adat. Bentuk rumah adat kerucut ke atas adalah ciri khas rumah adat Sumba di desa Ratung Garung.
Semua ajaran kehidupan dikomunikasikan secara verbal dan visual melalui cerita, patung dan syair turun temurun ke generasi berikutnya melalui orang tua. Masyarakat Sumba dengan rumah atap menara yang menjulang tinggi, dibangun di kampung adat diyakini bahwa semakin tinggi atap rumah semakin dekat dengan Sang Ilahi. Rumah adat adalah rumah besar yang terdapat pada kampung adat, sedangkan bentuk rumah di luar kampung adat umumnya tidak bermenara yang disebut Uma Kumudulu atau rumah gundul. Ukuran rumah dan menara serta letak sudah ditentukan oleh Kepala Adat, dan setiap tahun di dalam rumah tersebut mereka selalu membahas adat. Pada rumah adat di tengah-tengah selalu terdapat perapian dan tiang-tiang pada rumah adat mempunyai jabatan tersendiri, dan tiang-tiang itu dimiliki oleh satu orang. Oleh sebab itu pengalaman terlibat pada pembangunan rumah adat bagi mahasiswa Unika merupakan pengalaman spiritual nyata pada sisi tradisional di wilayah Indonesia.
Sementara itu Yori Antar yang menggagas dan membangun Musium Sumba menyampaikan bahwa ungkapan pengalaman berharga tempat kuliah, laboratorium, dan perpustakaan arsitektur ditemukan oleh mahasiswa Unika di arena hidup yang sesungguhnya dan mahasiswa Unika tersebut adalah “pendekar nusantara”.
Di sisi lain kita kadang terjebak pada wawasan kepulauan bukan wawasan nusantara. Banyak sisi-sisi nusantara yang tidak diketahui oleh masyarakat kita; Dan sumber pengetahuan kita adalah dari negeri sendiri, bukan rumah Indonesia rasa Jepang, atau rumah Indonesia ala Spanyol lalu pertanyaannya dimana rumah ala Indonesia itu?
Prof. Josep Prijotomo, dalam makalahnya yang berjudul Arsitektur Dua Musim, Arsitektur Empat Musim Menggoyang Ketimpangan, mengungkapkan bahwa orang yang berpandangan tinggal di ruang ber-ac itu sudah menggambarkan ketropikan adalah orang yang keliru. Dengan sengaja Prof, Josep menunjukkan pada keseharian mendapatkan kenyamanan menggunakan mesin pengikliman dan memisahkan dari iklim nyata yang telah mengitari kehidupan kita adalah sikap kurang memahami iklim tropik dan subtropik. Masalahnya adalah, apakah mahasiswa arsitektur memahami perbedaan antara dua musim di dalam perencanaannya. Selain itu juga tertantang dengan sebutan arsitektur nusantara? Semua bangunan di arsitektur nusantara adalah bangunan kayu, bukan bangunan batu dan terletak dipedesaan; Dan kita harus puas untuk mengatakan bahwa bangunan-bangunan di Nusantara yang sering kita banggakan dengan sebutan arsitektur itu, senyatanya adalah bukan arsitektur! Kebanggaan yang memalukan tetapi kita menikmatinya. (juang saksono)
|