English Bahasa Indonesia

Pedagang Bakmi dan Nasi Goreng Rasakan Manfaat KKU Unika Soegijapranata

Bakmi dan Nasi Goreng Semarang Pak Kris yang didampingi mahasiswa Unika Soegijapranata melalui program Kuliah Kerja Usaha (KKU) saat ekspo di Lapangan Basket kampus setempat. (suaramerdeka.com/ Puthut Ami Luhur)
Bakmi dan Nasi Goreng Semarang Pak Kris yang didampingi mahasiswa Unika Soegijapranata melalui program Kuliah Kerja Usaha (KKU) saat ekspo di Lapangan Basket kampus setempat. (suaramerdeka.com/ Puthut Ami Luhur)

SEMARANG, suaramerdeka.com – Pendampingan mahasiswa Unika Soegijapranata selama dua bulan melalui program Kuliah Kerja Usaha (KKU) kepada pelaku Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM), sangat dirasakan manfaatnya oleh pedagang Mie dan Nasi Goreng Kristiono (48). Menurutnya usaha yang ditekuninya, saat ini semakin berkembang menjadi lebih baik.

“Dulu hanya memakai kertas minyak untuk membungkus mie atau nasi goreng yang dipesan untuk dibawa pulang, sekarang memakai paper bowl. Tampilan desain lebih bagus karena dulu sangat sederhana sebelum ada pendampingan dari mahasiswa Unika,” kata pedagang yang membuka kedai di Jalan Kumudasmoro Selatan itu di Unika Soegijapranata, Selasa (6/12).

Mengenai peningkatan pemasukan setelah didampingi mahasiswa dari Unika, jujur dia belum banyak merasakannya karena baru memulainya. Ia optimis, dagangannya akan semakin laku, terlebih setelah ada inovasi dengan tingkat kepedasan berlevel.

Kenny Shan Sutanto, mahasiswa Unika Soegijapranata yang melakukan pendampingan ke UMKM menyatakan, perubahan pada Bakmi dan Nasi Goreng Semarang Pak Kris semuanya dirancang mahasiswa yang tergabung dalam kelompok 35 KKU.

“Nama level tingkat kepedasan Bakmi dan Nasi Goreng kami yang merancang, ada dari yang paling rendah sampai tertinggi Suwung, Cemen, Sumuk dan Gobyos Poll. Demikian juga desain untuk promosi, agar lebih menarik dan dinamis,” tuturnya.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Unika Soegijapranata Prof Dr Andreas Lako menyatakan, kegiatan KKU sudah dilaksanakan sejak 2000 lalu tapi mulai terstruktur dan berkelanjutan sejak 2013. Mahasiswa melakukan pendampingan dari semua aspek, mulai dari pendanaan, manajemen, desain, marketing dan inovasi-inovasinya.

“Setiap kelompok mahasiswa diwajibkan melakukan pendampingan terhadap dua UMKM, agar terdapat perbandingan antara keduanya mana yang berkembang dan tidak. Mereka sebelum melakukan pendampingan, melakukan visibility study lebih dahulu dan kemudian merumuskan program yang akan dilakukan,” paparnya.

Masing-masing UMKM mempunyai program yang berbeda, tergantung kebutuhannya di lapangan seperti apa. Mahasiswa diharapkan serius melakukan pendampingan, agar program yang dirancang dapat dilaksanakan dan berguna bagi UMKM yang didampingi.

(Puthut Ami Luhur/ CN33/ SM Network)

Facebook Comments