English Bahasa Indonesia

REFLEKSI KARYA 2016 : Kebersahajaan yang Memerdekakan

web Refleksi karya

Pada Tahun Perkuliahan 2015-2016, Unika Soegijapranata mengangkat tema karya: “UGAHARI-MANDIRI”. Rumusan tema tersebut terinspirasi dari pernyataan Mgr. Alb. Soegijapranata berikut ini: Dengan hidup jang serba sederhana, bersahadja dan beruga-hari, dengan bekerja jang keras, golongan Katolik patutlah merupakan golongan yang economist dapat berdiri sendiri, mampu memenuhi keperluan hidup perseorangan dan bersama tiada dengan sokongan dari mana dan dari siapapun djuga. Pun dalam keuangan kita haruslah dapat hidup merdeka dan leluasa, tak tertekan oleh perasaan hutang piutang (Mgr. Albertus Soegijapranata, 1957)

Berpijak dari rumusan tema karya tersebut, refleksi karya Unika yang akan dilaksanakan hari Kamis-Jumat, 7-8 April 2016 mengolah dan mempertajam semangat hidup ugahari-mandiri dalam konteks hidup di tengah masyarakat Jawa Tengah, yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani. Tujuan refleksi karya 2016 adalah ingin menyelami keadaan masyarakat petani, menggali inspirasi dari kelompok tani, dan mengembangkan sikap empati. Tujuan jangka panjangnya adalah Unika menyumbangkan sesuatu untuk warga desa ke depan sebagai bentuk pengabdian masyarakat.

Hidup ugahari atau bersahaja merupakan kondisi yang dipilih dan dirangkul dengan gembira dan komitmen pribadi berlandaskan pada iman akan Yesus sebagai teladan. Ugahari atau bersahaja berarti upaya mengekang keinginan atau kebutuhan yang melampaui kebutuhan hakiki untuk hidup sejahtera. Bersahaja menjadi tanda kedewasaan pribadi yang mampu mengambil pilihan dan sikap yang jelas. Mengambil pilihan yang jelas dan berani menanggung akibatnya melahirkan kemerdekaan batin. Orang yang hidup bersahaja mampu melihat kesejahteraan secara utuh, baik sehat jasmani, rohani, budi, maupun social.

Kata “ugahari” yang memiliki padanan dengan kata sederhana, secukupnya, sak madya memiliki konotasi moral, yaitu sebagai sebuah sikap hidup. Sikap hidup itu adalah sebuah pilihan pribadi yang merdeka-otonom-mandiri, maka ugahari merupakan sebuah sikap yang dipilih bukan karena keterpaksaan. Sikap ugahari juga mengandung unsur asketis atau mati raga.

Mgr. Soegijapranata mengkaitkan sikap sederhana, bersahaja, ugahari dengan bekerja keras dan kemandirian ekonomi. Mandiri dalam pengertian dapat berdiri sendiri, tidak bergantung pada pihak lain termasuk tidak di bawah tekanan hutang piutang. Orang hidup secara ekonomi berdasarkan kemampuan riil yang dimiliki, bukan berdasarkan keinginan yang tak terjangkau.

Ugahari dan materi harta kekayaan tidak perlu diperlawankan, apalagi dalam dua ekstrem. Karena ugahari sebagai sebuah sikap hidup yang diambil oleh seorang pribadi yang merdeka-otonom-mandiri. Walaupun hartanya melimpah ruah, ia bisa hidup dalam keugaharian dan kebersahajaan. Artinya, orang bisa saja sangat kaya dan memiliki banyak harta, namun sekaligus bisa menjalani hidup ugahari, dan sebaliknya orang miskin belum tentu berpola hidup ugahari. Inilah tantangan kita bersama.

Oleh karena itu, tema refleksi karya 2016 adalah “Kebersahajaan yang Memerdekakan”. Refleksi karya dikemas dengan model live in di dalam keluarga-keluarga di empat desa (terdiri dari tujuh dusun) binaan Qaryah Thayyibah Salatiga. Keempat desa tersebut adalah Desa Ketapang (Dusun Karangasem dan Dusun Baraan), Desa Batur (Dusun Ngringin dan Dusun Kaliduren), Desa Sukabumi (Dusun Surjo dan Dusun Sukabumi), dan Sumberagung. Setiap keluarga akan menerima dua orang peserta refleksi karya.

Pengolahan tema dan pengalaman live in tersebut akan dilaksanakan di Griya Robusta Kopi Banaran dengan narasumber Rama Dr. CB. Mulyatno Pr dan Prof. Dr. Ir. Y. Budi Widianarko, M.Sc. #

Facebook Comments